Tarif Selular Harus Dipangkas

Posted: November 20, 2007 in Tarif Selular Harus Dipangkas


Tarif Selular Harus Dipangkas

Hingga sekarang public masih berkutat dalam genangan informasi yang simpang siur tentang layanan selular dan apa saja yang terkait di dalamnya. Seretnya akses untuk mendapat data akurat seputar operator seluler dan layanannya adalah penyebab utama. Ditambah lagi dengan sajian informasi para operator yang umumnya sulit dimengerti dan semu. Akhirnya malah menjadi teka teki yang harus dipecahkan sendiri oleh konsumen.

Hasil penelitian BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) memaparkan satu pesan atau sms lintas operator biaya produksinya hanya Rp.75. lantas menjadi sebuah dilemma yang mengusik kala SMS ini dengan enteng dijual seharga Rp.250-300 hanya karena operator menilai konsumen asyik-asyik saja dengan penerapan tariff tersebut. Inilah yang harus digaris bawahi, konsumen jelas-jelas dirugikan! Karena marginnya otomatis mencapai angka 400 % diatas biaya produksi.

Sekedar informasi, dalam pengguanaan operator kian membesar jika SMS itu dilakukan antar pelanggan lain operator. Pasalnya, pengiriman SMS sesama operator 100% menggunakan jaringan milik operator itu sendiri. Biaya produksinya nyaris tak ada. Ambil contoh biaya produksi sekitar Rp.38, maka dengan membebankan tariff Rp.150 saja, operator sudah bisa membukukan keuntungan besar mengingat jumlah pelanggan saat ini sudah mencapai puluhan juta.

Konyolnya hingga sekarang operator besar seperti Telkomsel, Indosat dan XL tampak cuek dan masih segan menurunkan tariff SMS nya. Andaikan terjadi penurunanpun relative tipis dan baru terjadi setelah bertahun-tahun lamanya. Padahal operator kecil yang merupakan pemain baru justru berani langsung menggebrak dengan tariff SMS murah begitu muncul di pasar.

Selain itu operator harus memberikan pemahaman yang baik dalam beriklan atau memberikan informasi. Jangan memacu konsumen untuk terus mengeluarkan uang yang hanya memperbesar pundit-pundi uang operator. Justru public harus diingatkan untuk memanfaatkan sarana telekomunikasi seefisien mungkin. Kurangnya edukasi pun terlihat saat operator menawarkan promosi tertentu dengan keterangan yang tidak lengkap, karena dibalik semua itu berisi jebakan.

Dalam jangka pendek, Filipina, Indonesia, dan Vietnam adalah tiga teratas untuk pasar investasi telekomunikasi bergerak. Sedangkan India, menunjukan indikasi penurunan signifikan untuk berinvestasi setelah iklim kompetisi dan pertumbuhan telekomunikasinya cenderung stabil. Disebutkan pula, ARPU tiap enam bulannya secara global menurun 2%. Dan trend penurunan itu diperkirakan akan berlanjut 2008-2009.

Tak pelak, isi perut operator yang seolah tabu untuk dibedah sudah saatnya dibuka demi keadilan. Pembelajaran terus-menerus serta keterbukaan informasi dari operator adalah satu hal yang bisa memperbaiki ketimpangan yang terjadi saat ini. Jika konsumen bisa mengakses informasi akurat dan mendapatkan edukasi yang benar, hal-hal seperti pembodohan public dan trik kotor dalam bisnis bisa dieliminasi. Masalah seperti tariff berat sebelah, kegagalan penggilan, sinyal kurang baik, kesulitan mengakses informasi, dan layanan yang terbatas tidak akan terjadi lagi dikemudian hari.

Comments
  1. Voucha says:

    Agaknya penurunan tarif masih jadi wacana saja, Pak. Sebab hanya ada 3 operator besar yang menguasai pasar. Yang lain, market sharenya kecil sekali.

    Salam kenal
    Voucha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s