"Dating at Work" Apa pengaruhnya terhadap karir Anda?

Posted: December 2, 2007 in "Dating at Work" Apa pengaruhnya terhadap karir Anda?
“Dating at Work” Apa pengaruhnya terhadap karir Anda?
Orang bilang, cinta itu bisa jatuh pada siapa saja dan dimana saja, tak terkecuali di kantor. Kita biasa menyebutnya “dating at work” atau cinta sekantor. Dan nyatanya, siapa yang kuasa menolak hadirnya cinta yang tidak terduga itu? Namun di balik itu bagaimana pengaruhnya terhadap karir Anda?
Michelle Marrinan, seorang konsultan karir di New York, menceritakan pengalaman beberapa kliennya yang mengalami masalah cinta sekantor itu. Marina Diver, seorang asisten publc relations di New York, adalah salahsatunya. Wanita berusia 28 tahun yang baru bergabung dengan perusahaan barunya setahun lalu itu, tidak pernah menyangka akan pacaran dan bahkan menikah dengan bosnya.
“Kami semula teman kerja, sebuah tim yang kompak dan penuh semangat. Tak ada yang lebih dari itu, sampai suatu hari Bob memesan sebuah restoran yang enak dan mengajak saya makan malam. Hati saya begitu penuh bunga ketika itu,” ungkap Marina tentang Bob Sullivan, sang bos yang kini menjadi suaminya. Sejak makan malam itu, mereka kerap pergi bersama. Tiga minggu sesudahnya, mereka akhirnya pacaran. Dan beberapa bulan setelah itu, Bob melamar Marina menjadi istrinya.
Tentu saja, pada dasarnya semua orang butuh kebahagiaan. Cerita Marina Diver bukanlah satu-satunya. Ada banyak cerita lain tentang cinta sekantor yang berakhir dengan indah, tapi juga sebaliknya. Kisah cinta yang berakhir indah itu, menurut Michelle Marrinan, salahsatunya biasanya karena didukung sistem kantor yang tidak punya aturan khusus tentang hubungan cinta di tempat kerja.
Mudah jenuh dan bertengkar
Meski ada banyak cerita indah tentang akhir kisah cinta sekantor, ternyata justru lebih banyak yang menganggap tak mudah untuk membina hubungan cinta di bawah satu atap perusahan seperti itu. “Salahsatu masalahnya adalah memelihara profesionalitas dan perasaan pada saat yang bersamaan,” ujar Marrinan.
Bisa bertemu pacar setiap saat di kantor, kelihatannya menyenangkan. Menambah semangat,kita jadi memperhatikan penampilan supaya lebih menarik dan sebagainya. Tetapi begitu mudah bertemu pun, dampaknya tidak baik bagi suatu hubungan. Kejenuhan lebih mudah timbul dan pertengkaran lebih mudah pula tersulut. “Bertemu dengan orang yang kita cintai tentu menyenangkan. Tetapi terlalu mudah melihatnya sepanjang hari, apalagi setiap hari, justru akan mengurangi sensasinya. Itulah awal kejenuhan dan pertengkaran pada umumnya pasangan sekantor,” demikian Marrinan.
Dari citra tunggal menjadi “citra bersama”.
Yang tak kalah rumit dalam hubungan sekantor adalah berubahnya citra diri. Ketika anda belum punya pacar, teman-teman sekantor melihat anda sebagai diri sendiri. Begitu anda punya pacar sekantor, apa yang terjadi pada anda atau sang pacar, sadar atau tidak, akan disorot sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi.
“Kadang-kadang ketika saya jenuh dengan pekerjaan saya, selalu ada waktu untuk melarikan diri. Entah itu shoping, jalan-jalan atau sekedar menghilang sejenak dari kantor. Dan tak ada yang menganggap itu sebagai masalah karena wajar dialami tiap orang,” kata John Walkers, seorang pengacara dari sebuah kantor pengacara di Washington DC.
Tetapi tiga bulan setelah dia pacaran dengan Debby Walsh, seorang staff akunting di kantornya, ada hal yang rasanya bergeser. Ketika John jenuh pada pekerjaannya dan butuh waktu untuk diri sendiri, teman-temannya malah mengartikan John lebih memilih berkonsentrasi lebih banyak pada hubungan pribadinya dengan Debby. Sehingga kesan yang mulai muncul adalah John mulai tidak profesional.
“Saya jadi mulai mengerti bahwa kini orang bukan lagi melihat saya sebagai John Walkers, tetapi melihat saya sebagai John yang pacarnya Debby Walsh. Begitu juga sebaliknya. Ketika prestasi saya menurun, orang mengaitkannya dengan hubungan kami. Ketika kami sibuk dan tidak bertemu selama beberapa hari, orang mulai berspkeluasi tentang hubungan kami. Ketika ada rahasia suatu divisi yang bocor ke divisi lain, kami setidaknya menjadi salahsatu yang dihitung sebagai “mungkin John atau Debby pernah saling berbisik tentang hal itu. Bisa saja kan?”. Saya akhirnya tidak sepenuhnya bisa menjadi diri sendiri karena segala sesuatunya harus memperhitungkan Debby, begitu juga sebaliknya. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat kami bisa dijadikan umpan untuk gosip atau politik kantor,” kata John Walkers panjang lebar.
Butuh lebih banyak komunikasi
Itulah sebabnya, banyak hal yang sebenarnya harus dipikirkan ketika kita memutuskan mempunyai pacar sekantor. Karena memang tak mudah menjalankan profesionalisme dan perasaan pada saat bersamaan. Ada saat kita jenuh, tak ingin berbagi, harus menyimpan rahasia dan sebagainya. Itulah sebabnya, kata Marrinan, komunikasi adalah satu-satunya cara efektif untuk mengatasi berbagai masalah dalam hubungan semacam ini.
“Kalau tidak cermat dan hati-hati, hubungan cinta sekantor itu justru akan menghancurkan karir dan reputasi anda,” katanya. Bertengkar atau ribut dalam sebuah hubungan pacaran, tentu biasa. Tetapi masalahnya bisa berbeda kalau itu terjadi pada pacar anda yang satu tim kerja dengan anda. Bisa-bisa, konsentrasi anda jadi buyar, pekerjaan anda terbengkalai dan berpengaruh pada promosi karir anda di kemudian hari.
“Butuh begitu banyak komunikasi dan pengertian dalam hubungan macam ini dan dalam kenyataannya tidak mudah, apalagi kalau kita ada pada posisi penting yang hanya punya dua pilihan : naik atau hancur. Kecuali bagi mereka yang hanya ingin punya pekerjaan tapi tak ingin punya prestasi. Kalau anda siap dari awal dan menjalaninya dengan cermat, semua akan lancar. Bahkan karir anda berdua bisa cemerlang,” ujar Marrinan, lagi.
Beberapa waktu lalu, sebuah survey tentang ‘dating at work’ ini dilakukan di Amerika terhadap sekitar 5000 karyawan dari berbagai perusahaan. Hasilnya, 68% responden menganggap bahwa dalam sebuah perusahaan memang tak seharusnya ada hubungan cinta sekantor, demi menjaga profesionalitas dan kredibilitas personal maupun perusahaan. Dari sisi hubungan baik, 66% responden sadar bahwa hubungan baik memang diperlukan untuk kemajuan perusahaan dan interaksi dengan para klien, tapi bukan hubungan cinta.
Sementara ketika ditanya apakah menguntungkan mempunyai hubungan cinta sekantor, 52% responden menjawab hal itu wajar terjadi meskipun kita suka atau tidak. Soal untung rugi, 37% menjawab hanya akan lebih banyak merusak mood kerja dan membuat produktifitas kerja menurun. Tetapi menyangkut tanggapan apakah menyenangkan jika punya pacar di kantor, 27% menjawab hal itu sebagai “sesuatu yang semata-mata untuk gairah dan kesenangan, tapi bukan untuk hal serius karena terlalu beresiko, mematikan promosi dan hanya memicu skandal”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s